Updates from September, 2018 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Kang Yudhie 11:13 on 14 September 2018 Permalink | Balas
    Tags: , kapolres gresik 2019, perumahan anggota polres gresik, perumahan baru di gresik kota 2019, perumahan bersubsidi dari pemerintah di gresik kota, perumahan murah subsidi di gresik kota, perumahan polri dp nol persen, polres gresik 2019   

    Kerjasama Kapolres Gresik Dengan REI Untuk Pembangunan Rumah Anggota Polres Gresik 2019 

    Kerjasama Kapolres Gresik Dengan REI Gresik Untuk Pembangunan Rumah Anggota Polres Gresik 2019

    Contrasnews.com – Polres Gresik, Kapolres Gresik AKBP. Wahyu S. Bintoro., SH., SIK.,M.si didampingi Wakapolres Gresik Kompol. Wahyu Pristha Utama., SH., SIK., MH dan Kabag Sumda Polres Gresik Kompol Hj. Budi Idayati laksanakan kunjungan di Dinas Pekerja Umum Kab. Gresik, bertempat di Ruang Kepala Dinas Pekerja Umum Kab. Gresik, Selasa (17/7/2018) Pukul 08.00 Wib.

    Dalam kunjungan ini Kapolres Gresik AKBP. Wahyu S. Bintoro., SH., SIK.,M.si mengatakan, kedatangannya di
    Dinas Pekerja Umum Kab. Gresik mempererat tali silahturahmi antara kepolisian dengan instansi terkait dan juga ingin memastikan dan berkoordinasi tentang masalah lahan yang akan dibangun Mapolres Gresik, Sehingga tahun 2019 sudah bisa dibangun Polres Gresik karena anggaran pembangunan akan disiapkan Pemda sebesar 35 M.

    “Polres Gresik bekerjasama dan berkoordinasi dengan REI Gresik serta kadis PU untuk mengetahui peta atau denah lokasi peruntukan pemukiman di wilayah kab Gresik,” kata Kapolres.

    “Lahan dari Bpk Mujiono sebagai pengurus REI gresik untuk rumah bersubsidi sudah siap diwilayah kec duduk sampeyan. Namun ada kendala masalah tanah peruntukannya pertanian,” tegas Kapolres.

    Kapolres mengatakan akan berkoordinasi dengan BPN dan Forpimda untuk tindak lanjut pembanguan rumah anggota.

    Hadir dalam silahturahmi tersebut, Kasubag Sarpras Polres Gresik IPTU. Agung, Bapak Gunawan Setijadi., MM (Kepala Dinas PU Kab. Gresik) dan Bapak Mujiono (REI gresik ).(hy/wahyu s.b.)

    Tag : kapolres gresik 2019, perumahan anggota polres gresik, perumahan polri dp nol persen, polres gresik 2019, asrama polres gresik, perumahan baru di gresik kota 2019, perumahan murah subsidi di gresik kota, perumahan bersubsidi dari pemerintah di gresik kota

    Iklan
     
  • Kang Yudhie 16:48 on 7 September 2018 Permalink | Balas
    Tags: foto irjen pol lucky hermawan, foto irjen pol luki hermawan, foto kapolda jatim baru 2018   

    Foto Kapolda Jatim Baru September 2018 Irjen Pol Luki Hermawan dan Ketua Bhayangkari Daerah Jawa Timur 

    Foto Kapolda Jatim Baru September 2018 Irjen Pol Luki Hermawan bersama Ketua Bhayangkari Daerah Jawa Timur

     
  • Kang Yudhie 09:58 on 7 September 2018 Permalink | Balas
    Tags: sertijab kapolsek menganti polres gresik 7 september 2018   

    Kapolsek Gresik Kota Menghadiri Acara Pisah Sambut Kapolsek Menganti Polres Gresik 

    Lihat Tweet @SekGresikKota: https://twitter.com/SekGresikKota/status/1037897136820482048?s=09

    Kapolsek Gresik Kota Menghadiri Acara Pisah Sambut Kapolsek Menganti Polres Gresik

     
  • Kang Yudhie 10:11 on 5 September 2018 Permalink | Balas
    Tags: masuk pak eko polisi   

    Tonton “Polisi Masuk Pak Eko” di YouTube 

    Tonton “Polisi Masuk Pak Eko” di YouTube

     
  • Kang Yudhie 09:17 on 2 September 2018 Permalink | Balas
    Tags: ceramah gus javar, cerpen gus mus, gus jafar pasuruan, gus jakfar pasuruan, gus javar pasuruan, kyai saleh pasuruan, kyai tawakal pasuruan, tuhan gus jakfar pasuruan, video gus jakfar terbaru 2019   

    Cerpen Gus Mus “Siapa “Gus Jakfar Pasuruan” Gondang Wetan, Sebenarnya ? Ini Dia Jawabannya ! Kisah Perjalanan Spiritual #ViraL di Facebook” dan YouTube 

    Cerpen Gus Mus “Siapa “Gus Jakfar Pasuruan” Gondang Wetan, Sebenarnya ? Ini Dia Jawabannya ! Kisah Perjalanan Spiritual #ViraL di Facebook” dan YouTube

    Cerpen “Gus Ja’far” Karya Gus Mus

    Di antara putera-
    putera Kyai Saleh, pengasuh pesantren “Sabilul Muttaqin” dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik perhatian
    masyarakat.

    Mungkin Gus Jakfar tidak se alim dan sepandai saudara saudaranya, tapi beliau mempunyai keistimewaan
    yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah, malah
    konon beberapa
    pejabat tinggi dari pusat
    memerlukan sowan khusus
    ke rumahnya setelah
    mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang dekat dengan
    keluarga ndalem,
    bahkan Kiai Saleh sendiri
    segan dengan anaknya yang
    satu itu. “Kata Kiai, Gus Jakfar
    itu lebih tua dari beliau sendiri,” .

    Cerita Kang Solikin suatu hari kepada
    kawan-kawannya yang
    sedang membicarakan putera bungsu
    Kiai Saleh itu. “Saya sendiri tidak paham apa maksudnya.”
    “Tapi, Gus Jakfar memang luar
    biasa,” kata Mas Bambang,
    pegawai Pemda yang sering
    mengikuti pengajian subuh
    Kiai Saleh. “Matanya itu lho. Sekilas saja mereka melihat kening
    orang, kok langsung bisa
    melihat rahasianya yang
    tersembunyi. Kalian ingat,
    Sumini yang anak penjual rujak di terminal lama yang dijuluki
    perawan tua itu, sebelum
    dilamar orang sabrang kan
    ketemu Gus Jakfar. Waktu itu
    Gus Jakfar bilang, ‘Sum, kulihat
    keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?’. Tak
    lama kemudian orang sabrang
    itu datang melamarnya.”

    “Kang Kandar kan juga begitu,”
    timpal Mas Guru Slamet. “Kalian kan mendengar sendiri ketika Gus
    Jakfar bilang kepada tukang
    kebun SD IV itu, ‘Kang, saya
    lihat hidung sampeyan kok
    sudah bengkok, sudah capek
    menghirup nafas ya?’ Lho, ternyata besoknya Kang
    Kandar meninggal.” “Ya. Waktu itu
    saya pikir Gus Jakfar hanya
    berkelakar,” sahut Ustadz Kamil,
    “Nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada
    diri Kang Kandar.” “Saya malah
    mengalami sendiri,” kata Lik
    Salamun, pemborong yang dari
    tadi sudah kepingin ikut bicara. “Waktu itu, tak ada hujan tak
    ada angina, Gus Jakfar bilang
    kepada saya, ‘Wah, saku
    sampeyan kok mondol- mondol;
    dapat proyek besar
    ya?’ Padahal saat itu saku saya justru
    sedang kempis. Dan percaya atau
    tidak, esok harinya saya
    memenangkan
    tender yang diselenggarakan Pemda tingkat provinsi.” “Apa
    yang begitu itu disebut ilmu
    kasyaf?” tanya Pak Carik yang
    sejak tadi hanya asyik
    mendengarkan. “Mungkin
    saja,” jawab Ustadz Kamil. “Makanya
    saya justru takut ketemu Gus
    Jakfar. Takut dibaca tanda- tanda
    buruk saya, lalu pikiran
    saya terganggu.” *** Maka,
    ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat
    pun geger; terutama para
    santri kalong, orang-orang kampung
    yang ikut mengaji tapi tidak
    tinggal di pesantren seperti
    Kang Solikin yang selama ini merasa dekat dengan beliau.

    Mula-mula Gus Jakfar menghilang
    berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tau tau sikapnya berubah
    menjadi manusia biasa. Dia sama
    sekali berhenti dan tak mau lagi
    membaca tanda-tanda. Tak
    mau lagi memberikan isyarat- isyarat
    yang berbau ramalan. Ringkas kata,
    dia benar-benar
    kehilangan keistimewaannya.
    “Jangan-jangan ilmu beliau
    hilang pada saat beliau menghilang itu,” komentar
    Mas Guru Slamet penuh penyesalan.

    “Wah, sayang sekali! Apa
    gerangan yang terjadi pada
    beliau?” “Ke mana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak
    tahu;” kata Lik Salamun.
    “Kalau
    saja kita tahu ke mana beliau
    pergi, mungkin kita akan
    mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau
    kemudian berubah.” “Tapi,
    bagaimanapun ini ada
    hikmahnya,” ujar Ustadz
    Kamil.
    “Paling tidak, kini kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat
    tulus mencari ilmu. Maka, jangan kita
    ingin mengetahui apa yang
    terjadi dengan gus kita ini
    hingga sikapnya berubah atau
    ilmunya hilang, sebaiknya kita
    langsung saja menemui beliau.”
    Begitulah, sesuai usul Ustadz
    Kamil, pada malam Jum’at
    sehabis wiridan salat Isya, saat
    mana Gus Jakfar prei, tidak
    mengajar; rombongan santri kalong sengaja mendatangi
    rumahnya. Kali ini hampir
    semua
    anggota rombongan
    merasakan keakraban Gus Jakfar,
    jauh melebihi yang sudah-sudah.
    Mungkin karena kini tidak ada
    lagi sekat berupa rasa segan,
    was-was dan takut. Setelah
    ngobrol ke sana kemari, akhirnya
    Ustadz Kamil berterus
    terang mengungkapkan
    maksud
    utama kedatangan
    rombongan: “Gus, di samping
    silaturahmi seperti biasa, malam ini kami
    datang juga dengan sedikit
    keperluan khusus. Singkatnya,
    kami penasaran dan sangat
    ingin tahu latar belakang perubahan
    sikap sampeyan.” “Perubahan apa?” tanya Gus Jakfar sambil
    tersenyum penuh arti. “Sikap
    yang mana? Kalian ini ada-ada
    saja. Saya kok merasa tidak
    berubah.” “Dulu sampeyan
    kan biasa dan suka membaca tanda-
    tanda orang,” tukas Mas Guru
    Slamet, “kok sekarang tiba-
    tiba mak pet, sampeyan tak mau
    lagi
    membaca, bahkan diminta pun
    tak mau.” “O, itu,” kata Gus
    Jakfar seperti benar-benar baru
    tahu. Tapi dia tidak
    segera
    meneruskan bicaranya. Diam agak lama. Baru setelah
    menyeruput kopi di depannya,
    dia melanjutkan, “Ceritanya
    panjang.” Dia berhenti lagi,
    membuat kami tidak sabar,
    tapi kami diam saja. “Kalian ingat,
    saya lama menghilang?”
    akhirnya Gus Jakfar bertanya,
    membuat kami yakin bahwa
    dia benar-benar siap untuk
    bercerita. Maka serempak kami
    mengangguk. “Suatu malam
    saya bermimpi ketemu ayah dan
    saya
    disuruh mencari seorang wali
    sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung
    yang jaraknya dari sini sekitar 200
    km kea rah selatan. Namanya
    Kiai Tawakkal. Kata ayah
    dalam
    mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai
    yang usianya sudah lebih
    100
    tahun ini. Santri-santri yang
    belajar kepada beliau pun
    rata- rata sudah disebut kiai di daerah
    masing-masing.”
    “Terus
    terang, sejak bermimpi itu,
    saya tidak bisa menahan
    keinginan saya untuk berkenalan dan kalau
    bisa berguru kepada
    Wali
    Tawakkal itu. Maka dengan
    diam-diam dan tanpa pamit
    siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah
    dalam mimpi dengan niat
    bilbarakah dan menimba ilmu
    beliau. Ternyata, ketika
    sampai
    di sana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku
    tidak mengenal nama Kiai
    Tawakkal.
    Baru setelah seharian melacak
    ke sana kemari, ada seorang
    tua yang memberi petunjuk.” ‘Cobalah nakmas ikuti jalan
    setapak di sana itu’ katanya.
    ‘Nanti nakmas akan berjumpa
    dengan sebuah sungai kecil;
    terus saja nakmas menyeberang.
    Begitu sampai seberang, nakmas akan
    melihat
    gubuk-gubuk kecil dari bambu.
    Nah, kemungkinan besar
    orang yang nakmas cari akan
    nakmas jumpai di sana. Di gubuk yang
    terletak di tengah-tengah
    itulah tinggal seorang tua
    seperti yang nakmas gambarkan.
    Orang sini
    memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang nakmas
    sebut Kiai siapa tadi?’ ‘Kiai
    Tawakkal.’ ‘Ya, Kiai Tawakkal.
    Saya yakin itulah orangnya, Mbah
    Jogo.’ “Saya pun
    mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan
    menemukan sekelompok
    rumah
    gubuk dari bambu.” “Dan betul,
    di gubuk bambu yang terletak
    di tengah-tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal
    alias
    Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-
    santrinya yang rata-rata
    sudah tua. Saya diterima
    dengan penuh keramahan, seolah-olah
    saya sudah merupakan bagian
    dari mereka. Dan kalian tahu?
    Ternyata penampilan Kiai
    Tawakkal sama sekali tidak
    mencerminkan sosoknya sebagai
    orang tua. Tubuhnya tegap
    dan wajahnya berseri-seri. Kedua
    matanya indah memancarkan
    kearifan. Bicaranya jelas dan
    teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut
    beliau bermuatan kata-kata
    hikmah.” Tiba-tiba Gus Jakfar
    berhenti,
    menarik nafas panjang, baru
    kemudian melanjutkan, “Hanya ada satu hal yang membuat
    saya
    terkejut dan tgerganggu. Saya
    melihat di kening beliau yang
    lapang ada tanda yang jelas
    sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan
    huruf
    yang cukup besar dan
    berbunyi
    ‘Ahli Neraka’. Astaghfirullah!
    Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu
    gambling. Saya ingin tidak
    mempercayai apa yang saya
    lihat. Pasti saya keliru. Masak
    seorang yang dikenal wali,
    berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang lain, disurati
    sebagai ahli neraka. Tak
    mungkin. Saya mencoba
    meyakin-yakinkan diri saya
    bahwa itu hanyalah ilusi, tapi
    tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau.
    Bahkan belakangan saya
    melihat tanda itu semakin
    jelas
    ketika beliau habis berwudhu.
    Gila!” “Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau,
    meskipun secara lisan
    memang
    saya sampaikan demikian,
    dalam hati sudah berubah menjadi
    keinginan untuk menyelidiki dan
    memecahkan keganjialan ini.
    Beberapa hari saya amati
    perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak
    melihat sama sekali hal-
    hal mencurigakan. Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak
    begitu berbeda dengan
    kebanyakan kiai yang lain:
    mengimami salat jamaah;
    melakukan salat-salat sunnat
    seperti dhuha, tahajjud, witir,dsb.; mengajar kitab-
    kitab (umumnya kitab-kitab
    besar); mujahadah; dzikir
    malam; menemui tamu; dan
    semacamnya. Kalaupun beliau
    keluar, biasanya untuk memenuhi undangan hajatan
    atau- dan ini sangat jarang
    sekali- mengisi pengajian
    umum. Memang ada kalanya beliau
    keluar pada malam-malam
    tertentu; tapi menurut santri- santri yang lama, itu pun
    merupakan kegiatan rutin
    yang sudah dijalani Kiai Tawakkal
    sejak muda. Semacam lelana
    brata, kata mereka.” “Baru
    setelah beberapa minggu tinggal di ‘pesantren bambu’,
    saya mendapat kesempatan atau
    tepatnya keberanian untuk
    mengikuti Kiai Tawakkal
    keluar.
    Saya pikir, inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas
    tanda tanya yang selama
    ini
    mengganggu saya.”
    “Begitulah,
    pada suatu malam purnama, saya melihat Kiai keluar dengan
    berpakaian rapi. Melihat
    waktunya yang sudah larut,
    tidak mungkin beliau pergi
    untuk
    mendatangi undangan hajatan atau lainnya. Dengan hati-hati
    saya membuntutinya dari
    belakang; tidak terlalu dekat,
    tapi juga tidak terlalu jauh.
    Dari jalan setapak hingga ke
    jalan desa, Kiai terus berjalan dengan langkah yang tetap
    tegap. Akan ke mana beliau
    gerangan? Apa ini yang
    disebut
    semacam lelana brata?
    Jalanan semakin sepi; saya pun semakin
    berhati-hati mengikutinya,
    khawatir tiba-tiba Kiai
    menoleh ke belakang.”
    “Setelah melewati kuburan dan
    kebun sengon, beliau berbelok.
    Ketika
    kemudian saya ikut belok,
    saya
    kaget, ternyata sosoknya tak
    kelihatan lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang
    penuh pengunjung. Terdengar
    gelak tawa ramai sekali.
    Dengan
    bengong saya mendekati warung
    terpencil dengan penerangan petromak itu. Dua orang
    wanita- yang satu masih
    muda
    dan yang satunya lagi agak lebih
    tua- dengan dandanan yang
    menor sibuk melayani pelanggan
    sambil menebar tawa genit ke
    sana kemari. Tidak mungkin Kiai
    mampir ke warung ini,
    pikir
    saya. Ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung
    yang suasananya saja
    mengesankan kemesuman ini. ‘Mas
    Jakfar!’ tiba-tiba saya
    dikagetkan oleh suara yang
    tidak asing di telinga saya, memanggil-manggil nama
    saya.
    Masyaallah, saya hampir- hampir
    tidak mempercayai
    pendengaran dan penglihatan
    saya. Memang betul, mata saya
    melihat Kiai Tawakkal
    melambaikan tangan dari dalam
    warung. Ah. Dengan kikuk dan
    pikiran tak karuan, saya pun
    terpaksa masuk dan menghampiri kiai yang saya
    yang duduk santai di pojok. Warung
    penuh dengan asap rokok.
    Kedua
    wanita menor menyambut
    saya dengan senyum penuh arti. Kiai
    Tawakkal menyuruh orang
    disampingnya untuk bergeser,
    ‘Kasi kawan saya ini tempat
    sedikit!’ Lalu, kepada orang-
    orang yang ada di warung, Kiai memperkenalkan saya.
    Katanya,
    ‘Ini kawan saya, dia baru
    datang dari daerah yang
    cukup jauh. Cari pengalaman
    katanya’. Mereka yang duduknya dekat
    serta merta mengulurkan
    tangan, menjabat tangan saya
    dengan ramah; sementara
    yang jauh melambaikan tangan”.
    “Saya masih belum sepenuhnya
    menguasai diri, masih seperti
    dalam mimpi, ketika tiba-tiba
    saya dengar Kiai menawari, ‘Minum
    kopi ya?!’ Saya
    mengangguk asal mengangguk.
    ‘Kopi satu lagi, Yu!’ kata Kiai
    kepada wanita warung sambil
    mendorong piring jajan ke dekat
    saya. ‘Silakan! Ini namanya
    rondo royal, tape goreng kebanggan warung ini! Lagi-
    lagi
    saya hanya menganggukkan
    kepala asal mengangguk.”
    “Kiai
    Tawakkal kemudian asyik kembali dengan ‘kawan-
    kawan’-
    nya dan membiarkan saya bengong
    sendiri. Saya masih
    tak
    habis pikir, bagaimana mungkin
    Kiai Tawakkal yang terkenal
    waliyullah dan dihormati para kiai
    lain bisa berada di sini.
    Akrab dengan orang-orang
    beginian; bercanda dengan wanita warung. Ah, inikah
    yang
    disebut lelana brata? Ataukah ini
    merupakan dunia lain
    beliau
    yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya
    seperti mendapat jawaban
    dari tanda tanya yang selama ini
    mengganggu saya dan
    karenanya
    saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O,
    pantas di keningnya kulihat tanda
    itu. Tiba-tiba sikap dan
    pandangan saya terhadap
    beliau
    berubah.” ‘Mas, sudah larut malam,’tiba-tiba suara Kiai
    Tawakkal membuyarkan lamunan
    saya. ‘Kita pulang,
    yuk!’ Dan tanpa menunggu
    jawaban saya, Kiai membayari
    minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada
    semua, kemudian keluar. Seperti
    kerbau dicocok hidung, saya
    pun mengikutinya. Ternyata
    setelah
    melewati kebon sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-
    jalan yang tadi kami lalui.
    ‘Biar cepat, kita mengambil
    jalan pintas saja!’ katanya.”
    “Kami melewati pematang,
    lalu menerobos hutan, dan akhirnya
    sampai di sebuah sungai. Dan,
    sekali lagi saya menyaksikan
    kejadian yang
    menggoncangkan.
    Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-
    olah di atas jalan biasa saja.
    Sampai di seberang, beliau
    menoleh ke arah saya yang
    masih berdiri mematung.
    Beliau melambai. ‘Ayo!’ teriaknya. Untung saya bisa berenang;
    saya
    pun kemudian berenang
    menyeberangi sungai yang
    cukup lebar. Sampai di seberang,
    ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon
    randu alas, menunggu. ‘Kita
    istirahat sebentar,’ katanya
    tanpa menengok saya yang sibuk
    berpakaian. ‘Kita masih punya
    waktu, insya Allah sebelum subuh kita sudah sampai
    pondok.’ Setelah saya ikut
    duduk di sampingnya, tiba-tiba
    dengan suara berwibawa, Kiai
    berkata mengejutkan,
    ‘Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang
    kaucari? Apakah kau sudah
    menemukan pembenar dari tanda
    yang
    kaubaca di kening saya?
    Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yang
    mahir melihat tanda-tanda
    menjadi ragu terhadap
    kemahiranmu sendiri?’ Dingin
    air
    sungai rasanya semakin menusuk
    mendengar rentetan
    pertanyaan beliau yang
    menelanjangi itu.
    Saya tidak bisa berkata apa-
    apa. Beliau yang kemudian terus
    berbicara. ‘Anak muda, kau
    tidak perlu mencemaskan saya
    hanya karena kau melihat
    tanda
    “Ahli Neraka” di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-
    payah mencari bukti yang
    menunjukkan bahwa aku
    memang pantas masuk
    neraka.
    Karena, pertama, apa yang kau
    lihat belum tentu merupakan hasil
    dari pandangan kalbumu
    yang bening. Kedua, kau kan
    tahu, sebagaimana neraka
    dan sorga, aku adalah milik Allah.
    Maka terserah kehendak-Nya,
    apakah Ia memasukkan diriku
    ke
    sorga atau neraka. Untuk
    memasukkan hamba-Nya ke sorga atau neraka,
    sebenarnyalah Ia tidak memerlukan
    alasan. Sebagai
    kiai, apakah kau berani
    menjamin amalmu pasti
    mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani
    mengatakan bahwa orang- orang
    di warung yang tadi kau
    pandang
    sebelah mata itu pasti masuk
    neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik
    oleh-Nya, kita ingin berdekat-
    dekat dengan-Nya, tapi kita
    tidak berhak menuntut
    balasan
    kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-
    Nya. Bukankah begitu?’ Aku
    hanya bisa menunduk.
    Sementara Kiai Tawakkal terus
    berbicara sambil menepuk- nepuk
    punggung saya. ‘Kau harus lebih berhati-hati bila
    mendapat cobaan Allah
    berupa
    anugerah. Cobaan yang
    berupa anugerah tidak kalah
    gawatnya dibanding cobaan yang berupa
    penderitaan. Seperti mereka
    yang di warung tadi;
    kebanyakan mereka orang susah.
    Orang susah sulit kau
    bayangkan bersikap takabbur; ujub, atau sikap-sikap lain
    yang
    cenderung membesarkan diri
    sendiri. Berbeda dengan mereka
    yang mempunyai
    kemampuan dan kelebihan: godaan untuk
    takabbur dan sebagainya itu
    datang setiap saat. Apalagi bila
    kemampuan dan kelebihan itu
    diakui oleh banyak pihak’
    Malam itu saya benar-benar merasa
    mendapatkan pemahaman
    dan
    pandangan baru dari apa yang
    selama ini sudah saya ketahui.
    ‘Ayo kita pulang!’ tiba-tiba Kiai bangkit. ‘Sebentar lagi subuh.
    Setelah sembahyang subuh
    nanti, kau boleh pulang.’ Saya
    tidak merasa diusir; nyatanya
    memang saya sudah
    mendapat banyak dari kiai luar biasa ini.”
    “Ketika saya ikut bangkit,
    saya celingukan. Kiai Tawakkal
    sudah tak tampak lagi. Dengan
    bingung
    saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang
    dari
    sebuah surau, tapi bukan surau
    bambu. Seperti orang linglung,
    saya datangi surau itu dengan
    harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh dengan
    Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan Kiai
    Tawakkal, orang yang
    mirip
    beliau pun tak ada. Tak
    seorang pun dari mereka yang berada di
    surau itu yang saya kenal. Baru
    setelah sembahyang,
    seseorang
    menghampiri saya. ‘Apakah
    sampeyan Jakfar?’ tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu
    pun menyerahkan
    sebuah
    bungkusan yang ternyata
    berisi
    barang-barang milik saya sendiri. ‘Ini titipan Mbah Jogo,
    katanya milik sampeyan.’
    ‘Beliau
    di mana?’ tanya saya buru-
    buru. ‘Mana saya tahu?’
    jawabnya. ‘Mbah Jogo datang dan pergi
    semaunya. Tak ada seorang
    pun
    yang tahu dari mana beliau
    datang dan ke mana beliau
    pergi.’ Begitulah ceritanya. Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang
    telah berhasil mengubah
    sikap saya itu tetap
    merupakan
    misteri.” Gus Jakfar sudah
    mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi suntuk
    mendengarkan masih diam
    tercenung sampai Gus Jakfar
    kembali menawarkan
    suguhannya..

    Ikuti kisah / cerita perjalanan hidup gus javar selanjutnya .. video gus jakfar pasuruan terbaru 2019 lihat di channel youtube kami. . .

     
  • Kang Yudhie 12:41 on 25 August 2018 Permalink | Balas
    Tags: ISO 9001 : 2015, PT. IMS GRESIK 2018, PT. INDONESIA MARINA SHIPYARD Gresik   

    Selamat & Sukses PT. INDONESIA MARINA SHIPYARD (IMS) TELAH MENDAPAT SERTIFIKAT SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9001 2015 – TAHUN 2018 

    Selamat & Sukses PT. INDONESIA MARINA SHIPYARD (IMS) TELAH MENDAPAT SERTIFIKAT SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9001 TAHUN 2015 tahun 2018

     
  • Kang Yudhie 09:47 on 7 August 2018 Permalink | Balas
    Tags: gaji petrokimia, gaji petrokimia gresik, haji 2018, haji petrokimia, haji petrokimia gresik, jamaah haji indonesia 2018, masjid nurul jannah petrokimia gresik, pt petrokimia gresik   

    Tonton “Pemberangkatan Jamaah Calon Haji Masjid Nurul Jannah PT PETROKIMIA GRESIK 7 Agustus 2018” di YouTube 

    Tonton “Pemberangkatan Jamaah Calon Haji Masjid Nurul Jannah PT PETROKIMIA GRESIK 7 Agustus 2018” di YouTube

    Tag : haji petrokimia, haji petrokimia gresik, gaji petrokimia, gaji petrokimia gresik, pt petrokimia gresik, masjid nurul jannah petrokimia gresik, jamaah haji indonesia 2018, haji 2018

     
  • Kang Yudhie 22:54 on 6 April 2018 Permalink | Balas
    Tags: www pendaftaran polri go id 2018, www penerimaan polri 2018, www penerimaan polri go id 2018   

    Tonton “www penerimaan polri go id 2018 ✓ Cara Pendaftaran Online Taruna Akpol, Bintara, Tamtama Polri” di YouTube 

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal