Updates from September, 2018 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Kang Yudhie 16:48 on 7 September 2018 Permalink | Balas
    Tags: foto irjen pol lucky hermawan, foto irjen pol luki hermawan, foto kapolda jatim baru 2018   

    Foto Kapolda Jatim Baru September 2018 Irjen Pol Luki Hermawan dan Ketua Bhayangkari Daerah Jawa Timur 

    Foto Kapolda Jatim Baru September 2018 Irjen Pol Luki Hermawan bersama Ketua Bhayangkari Daerah Jawa Timur

    Iklan
     
  • Kang Yudhie 10:11 on 5 September 2018 Permalink | Balas
    Tags: masuk pak eko polisi   

    Tonton “Polisi Masuk Pak Eko” di YouTube 

    Tonton “Polisi Masuk Pak Eko” di YouTube

     
  • Kang Yudhie 09:17 on 2 September 2018 Permalink | Balas
    Tags: ceramah gus javar, cerpen gus mus, gus jafar pasuruan, gus jakfar pasuruan, gus javar pasuruan, kyai saleh pasuruan, kyai tawakal pasuruan, tuhan gus jakfar pasuruan, video gus jakfar terbaru 2019   

    Cerpen Gus Mus “Siapa “Gus Jakfar Pasuruan” Gondang Wetan, Sebenarnya ? Ini Dia Jawabannya ! Kisah Perjalanan Spiritual #ViraL di Facebook” dan YouTube 

    Cerpen Gus Mus “Siapa “Gus Jakfar Pasuruan” Gondang Wetan, Sebenarnya ? Ini Dia Jawabannya ! Kisah Perjalanan Spiritual #ViraL di Facebook” dan YouTube

    Cerpen “Gus Ja’far” Karya Gus Mus

    Di antara putera-
    putera Kyai Saleh, pengasuh pesantren “Sabilul Muttaqin” dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik perhatian
    masyarakat.

    Mungkin Gus Jakfar tidak se alim dan sepandai saudara saudaranya, tapi beliau mempunyai keistimewaan
    yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah, malah
    konon beberapa
    pejabat tinggi dari pusat
    memerlukan sowan khusus
    ke rumahnya setelah
    mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang dekat dengan
    keluarga ndalem,
    bahkan Kiai Saleh sendiri
    segan dengan anaknya yang
    satu itu. “Kata Kiai, Gus Jakfar
    itu lebih tua dari beliau sendiri,” .

    Cerita Kang Solikin suatu hari kepada
    kawan-kawannya yang
    sedang membicarakan putera bungsu
    Kiai Saleh itu. “Saya sendiri tidak paham apa maksudnya.”
    “Tapi, Gus Jakfar memang luar
    biasa,” kata Mas Bambang,
    pegawai Pemda yang sering
    mengikuti pengajian subuh
    Kiai Saleh. “Matanya itu lho. Sekilas saja mereka melihat kening
    orang, kok langsung bisa
    melihat rahasianya yang
    tersembunyi. Kalian ingat,
    Sumini yang anak penjual rujak di terminal lama yang dijuluki
    perawan tua itu, sebelum
    dilamar orang sabrang kan
    ketemu Gus Jakfar. Waktu itu
    Gus Jakfar bilang, ‘Sum, kulihat
    keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?’. Tak
    lama kemudian orang sabrang
    itu datang melamarnya.”

    “Kang Kandar kan juga begitu,”
    timpal Mas Guru Slamet. “Kalian kan mendengar sendiri ketika Gus
    Jakfar bilang kepada tukang
    kebun SD IV itu, ‘Kang, saya
    lihat hidung sampeyan kok
    sudah bengkok, sudah capek
    menghirup nafas ya?’ Lho, ternyata besoknya Kang
    Kandar meninggal.” “Ya. Waktu itu
    saya pikir Gus Jakfar hanya
    berkelakar,” sahut Ustadz Kamil,
    “Nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada
    diri Kang Kandar.” “Saya malah
    mengalami sendiri,” kata Lik
    Salamun, pemborong yang dari
    tadi sudah kepingin ikut bicara. “Waktu itu, tak ada hujan tak
    ada angina, Gus Jakfar bilang
    kepada saya, ‘Wah, saku
    sampeyan kok mondol- mondol;
    dapat proyek besar
    ya?’ Padahal saat itu saku saya justru
    sedang kempis. Dan percaya atau
    tidak, esok harinya saya
    memenangkan
    tender yang diselenggarakan Pemda tingkat provinsi.” “Apa
    yang begitu itu disebut ilmu
    kasyaf?” tanya Pak Carik yang
    sejak tadi hanya asyik
    mendengarkan. “Mungkin
    saja,” jawab Ustadz Kamil. “Makanya
    saya justru takut ketemu Gus
    Jakfar. Takut dibaca tanda- tanda
    buruk saya, lalu pikiran
    saya terganggu.” *** Maka,
    ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat
    pun geger; terutama para
    santri kalong, orang-orang kampung
    yang ikut mengaji tapi tidak
    tinggal di pesantren seperti
    Kang Solikin yang selama ini merasa dekat dengan beliau.

    Mula-mula Gus Jakfar menghilang
    berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tau tau sikapnya berubah
    menjadi manusia biasa. Dia sama
    sekali berhenti dan tak mau lagi
    membaca tanda-tanda. Tak
    mau lagi memberikan isyarat- isyarat
    yang berbau ramalan. Ringkas kata,
    dia benar-benar
    kehilangan keistimewaannya.
    “Jangan-jangan ilmu beliau
    hilang pada saat beliau menghilang itu,” komentar
    Mas Guru Slamet penuh penyesalan.

    “Wah, sayang sekali! Apa
    gerangan yang terjadi pada
    beliau?” “Ke mana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak
    tahu;” kata Lik Salamun.
    “Kalau
    saja kita tahu ke mana beliau
    pergi, mungkin kita akan
    mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau
    kemudian berubah.” “Tapi,
    bagaimanapun ini ada
    hikmahnya,” ujar Ustadz
    Kamil.
    “Paling tidak, kini kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat
    tulus mencari ilmu. Maka, jangan kita
    ingin mengetahui apa yang
    terjadi dengan gus kita ini
    hingga sikapnya berubah atau
    ilmunya hilang, sebaiknya kita
    langsung saja menemui beliau.”
    Begitulah, sesuai usul Ustadz
    Kamil, pada malam Jum’at
    sehabis wiridan salat Isya, saat
    mana Gus Jakfar prei, tidak
    mengajar; rombongan santri kalong sengaja mendatangi
    rumahnya. Kali ini hampir
    semua
    anggota rombongan
    merasakan keakraban Gus Jakfar,
    jauh melebihi yang sudah-sudah.
    Mungkin karena kini tidak ada
    lagi sekat berupa rasa segan,
    was-was dan takut. Setelah
    ngobrol ke sana kemari, akhirnya
    Ustadz Kamil berterus
    terang mengungkapkan
    maksud
    utama kedatangan
    rombongan: “Gus, di samping
    silaturahmi seperti biasa, malam ini kami
    datang juga dengan sedikit
    keperluan khusus. Singkatnya,
    kami penasaran dan sangat
    ingin tahu latar belakang perubahan
    sikap sampeyan.” “Perubahan apa?” tanya Gus Jakfar sambil
    tersenyum penuh arti. “Sikap
    yang mana? Kalian ini ada-ada
    saja. Saya kok merasa tidak
    berubah.” “Dulu sampeyan
    kan biasa dan suka membaca tanda-
    tanda orang,” tukas Mas Guru
    Slamet, “kok sekarang tiba-
    tiba mak pet, sampeyan tak mau
    lagi
    membaca, bahkan diminta pun
    tak mau.” “O, itu,” kata Gus
    Jakfar seperti benar-benar baru
    tahu. Tapi dia tidak
    segera
    meneruskan bicaranya. Diam agak lama. Baru setelah
    menyeruput kopi di depannya,
    dia melanjutkan, “Ceritanya
    panjang.” Dia berhenti lagi,
    membuat kami tidak sabar,
    tapi kami diam saja. “Kalian ingat,
    saya lama menghilang?”
    akhirnya Gus Jakfar bertanya,
    membuat kami yakin bahwa
    dia benar-benar siap untuk
    bercerita. Maka serempak kami
    mengangguk. “Suatu malam
    saya bermimpi ketemu ayah dan
    saya
    disuruh mencari seorang wali
    sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung
    yang jaraknya dari sini sekitar 200
    km kea rah selatan. Namanya
    Kiai Tawakkal. Kata ayah
    dalam
    mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai
    yang usianya sudah lebih
    100
    tahun ini. Santri-santri yang
    belajar kepada beliau pun
    rata- rata sudah disebut kiai di daerah
    masing-masing.”
    “Terus
    terang, sejak bermimpi itu,
    saya tidak bisa menahan
    keinginan saya untuk berkenalan dan kalau
    bisa berguru kepada
    Wali
    Tawakkal itu. Maka dengan
    diam-diam dan tanpa pamit
    siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah
    dalam mimpi dengan niat
    bilbarakah dan menimba ilmu
    beliau. Ternyata, ketika
    sampai
    di sana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku
    tidak mengenal nama Kiai
    Tawakkal.
    Baru setelah seharian melacak
    ke sana kemari, ada seorang
    tua yang memberi petunjuk.” ‘Cobalah nakmas ikuti jalan
    setapak di sana itu’ katanya.
    ‘Nanti nakmas akan berjumpa
    dengan sebuah sungai kecil;
    terus saja nakmas menyeberang.
    Begitu sampai seberang, nakmas akan
    melihat
    gubuk-gubuk kecil dari bambu.
    Nah, kemungkinan besar
    orang yang nakmas cari akan
    nakmas jumpai di sana. Di gubuk yang
    terletak di tengah-tengah
    itulah tinggal seorang tua
    seperti yang nakmas gambarkan.
    Orang sini
    memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang nakmas
    sebut Kiai siapa tadi?’ ‘Kiai
    Tawakkal.’ ‘Ya, Kiai Tawakkal.
    Saya yakin itulah orangnya, Mbah
    Jogo.’ “Saya pun
    mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan
    menemukan sekelompok
    rumah
    gubuk dari bambu.” “Dan betul,
    di gubuk bambu yang terletak
    di tengah-tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal
    alias
    Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-
    santrinya yang rata-rata
    sudah tua. Saya diterima
    dengan penuh keramahan, seolah-olah
    saya sudah merupakan bagian
    dari mereka. Dan kalian tahu?
    Ternyata penampilan Kiai
    Tawakkal sama sekali tidak
    mencerminkan sosoknya sebagai
    orang tua. Tubuhnya tegap
    dan wajahnya berseri-seri. Kedua
    matanya indah memancarkan
    kearifan. Bicaranya jelas dan
    teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut
    beliau bermuatan kata-kata
    hikmah.” Tiba-tiba Gus Jakfar
    berhenti,
    menarik nafas panjang, baru
    kemudian melanjutkan, “Hanya ada satu hal yang membuat
    saya
    terkejut dan tgerganggu. Saya
    melihat di kening beliau yang
    lapang ada tanda yang jelas
    sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan
    huruf
    yang cukup besar dan
    berbunyi
    ‘Ahli Neraka’. Astaghfirullah!
    Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu
    gambling. Saya ingin tidak
    mempercayai apa yang saya
    lihat. Pasti saya keliru. Masak
    seorang yang dikenal wali,
    berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang lain, disurati
    sebagai ahli neraka. Tak
    mungkin. Saya mencoba
    meyakin-yakinkan diri saya
    bahwa itu hanyalah ilusi, tapi
    tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau.
    Bahkan belakangan saya
    melihat tanda itu semakin
    jelas
    ketika beliau habis berwudhu.
    Gila!” “Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau,
    meskipun secara lisan
    memang
    saya sampaikan demikian,
    dalam hati sudah berubah menjadi
    keinginan untuk menyelidiki dan
    memecahkan keganjialan ini.
    Beberapa hari saya amati
    perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak
    melihat sama sekali hal-
    hal mencurigakan. Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak
    begitu berbeda dengan
    kebanyakan kiai yang lain:
    mengimami salat jamaah;
    melakukan salat-salat sunnat
    seperti dhuha, tahajjud, witir,dsb.; mengajar kitab-
    kitab (umumnya kitab-kitab
    besar); mujahadah; dzikir
    malam; menemui tamu; dan
    semacamnya. Kalaupun beliau
    keluar, biasanya untuk memenuhi undangan hajatan
    atau- dan ini sangat jarang
    sekali- mengisi pengajian
    umum. Memang ada kalanya beliau
    keluar pada malam-malam
    tertentu; tapi menurut santri- santri yang lama, itu pun
    merupakan kegiatan rutin
    yang sudah dijalani Kiai Tawakkal
    sejak muda. Semacam lelana
    brata, kata mereka.” “Baru
    setelah beberapa minggu tinggal di ‘pesantren bambu’,
    saya mendapat kesempatan atau
    tepatnya keberanian untuk
    mengikuti Kiai Tawakkal
    keluar.
    Saya pikir, inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas
    tanda tanya yang selama
    ini
    mengganggu saya.”
    “Begitulah,
    pada suatu malam purnama, saya melihat Kiai keluar dengan
    berpakaian rapi. Melihat
    waktunya yang sudah larut,
    tidak mungkin beliau pergi
    untuk
    mendatangi undangan hajatan atau lainnya. Dengan hati-hati
    saya membuntutinya dari
    belakang; tidak terlalu dekat,
    tapi juga tidak terlalu jauh.
    Dari jalan setapak hingga ke
    jalan desa, Kiai terus berjalan dengan langkah yang tetap
    tegap. Akan ke mana beliau
    gerangan? Apa ini yang
    disebut
    semacam lelana brata?
    Jalanan semakin sepi; saya pun semakin
    berhati-hati mengikutinya,
    khawatir tiba-tiba Kiai
    menoleh ke belakang.”
    “Setelah melewati kuburan dan
    kebun sengon, beliau berbelok.
    Ketika
    kemudian saya ikut belok,
    saya
    kaget, ternyata sosoknya tak
    kelihatan lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang
    penuh pengunjung. Terdengar
    gelak tawa ramai sekali.
    Dengan
    bengong saya mendekati warung
    terpencil dengan penerangan petromak itu. Dua orang
    wanita- yang satu masih
    muda
    dan yang satunya lagi agak lebih
    tua- dengan dandanan yang
    menor sibuk melayani pelanggan
    sambil menebar tawa genit ke
    sana kemari. Tidak mungkin Kiai
    mampir ke warung ini,
    pikir
    saya. Ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung
    yang suasananya saja
    mengesankan kemesuman ini. ‘Mas
    Jakfar!’ tiba-tiba saya
    dikagetkan oleh suara yang
    tidak asing di telinga saya, memanggil-manggil nama
    saya.
    Masyaallah, saya hampir- hampir
    tidak mempercayai
    pendengaran dan penglihatan
    saya. Memang betul, mata saya
    melihat Kiai Tawakkal
    melambaikan tangan dari dalam
    warung. Ah. Dengan kikuk dan
    pikiran tak karuan, saya pun
    terpaksa masuk dan menghampiri kiai yang saya
    yang duduk santai di pojok. Warung
    penuh dengan asap rokok.
    Kedua
    wanita menor menyambut
    saya dengan senyum penuh arti. Kiai
    Tawakkal menyuruh orang
    disampingnya untuk bergeser,
    ‘Kasi kawan saya ini tempat
    sedikit!’ Lalu, kepada orang-
    orang yang ada di warung, Kiai memperkenalkan saya.
    Katanya,
    ‘Ini kawan saya, dia baru
    datang dari daerah yang
    cukup jauh. Cari pengalaman
    katanya’. Mereka yang duduknya dekat
    serta merta mengulurkan
    tangan, menjabat tangan saya
    dengan ramah; sementara
    yang jauh melambaikan tangan”.
    “Saya masih belum sepenuhnya
    menguasai diri, masih seperti
    dalam mimpi, ketika tiba-tiba
    saya dengar Kiai menawari, ‘Minum
    kopi ya?!’ Saya
    mengangguk asal mengangguk.
    ‘Kopi satu lagi, Yu!’ kata Kiai
    kepada wanita warung sambil
    mendorong piring jajan ke dekat
    saya. ‘Silakan! Ini namanya
    rondo royal, tape goreng kebanggan warung ini! Lagi-
    lagi
    saya hanya menganggukkan
    kepala asal mengangguk.”
    “Kiai
    Tawakkal kemudian asyik kembali dengan ‘kawan-
    kawan’-
    nya dan membiarkan saya bengong
    sendiri. Saya masih
    tak
    habis pikir, bagaimana mungkin
    Kiai Tawakkal yang terkenal
    waliyullah dan dihormati para kiai
    lain bisa berada di sini.
    Akrab dengan orang-orang
    beginian; bercanda dengan wanita warung. Ah, inikah
    yang
    disebut lelana brata? Ataukah ini
    merupakan dunia lain
    beliau
    yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya
    seperti mendapat jawaban
    dari tanda tanya yang selama ini
    mengganggu saya dan
    karenanya
    saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O,
    pantas di keningnya kulihat tanda
    itu. Tiba-tiba sikap dan
    pandangan saya terhadap
    beliau
    berubah.” ‘Mas, sudah larut malam,’tiba-tiba suara Kiai
    Tawakkal membuyarkan lamunan
    saya. ‘Kita pulang,
    yuk!’ Dan tanpa menunggu
    jawaban saya, Kiai membayari
    minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada
    semua, kemudian keluar. Seperti
    kerbau dicocok hidung, saya
    pun mengikutinya. Ternyata
    setelah
    melewati kebon sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-
    jalan yang tadi kami lalui.
    ‘Biar cepat, kita mengambil
    jalan pintas saja!’ katanya.”
    “Kami melewati pematang,
    lalu menerobos hutan, dan akhirnya
    sampai di sebuah sungai. Dan,
    sekali lagi saya menyaksikan
    kejadian yang
    menggoncangkan.
    Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-
    olah di atas jalan biasa saja.
    Sampai di seberang, beliau
    menoleh ke arah saya yang
    masih berdiri mematung.
    Beliau melambai. ‘Ayo!’ teriaknya. Untung saya bisa berenang;
    saya
    pun kemudian berenang
    menyeberangi sungai yang
    cukup lebar. Sampai di seberang,
    ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon
    randu alas, menunggu. ‘Kita
    istirahat sebentar,’ katanya
    tanpa menengok saya yang sibuk
    berpakaian. ‘Kita masih punya
    waktu, insya Allah sebelum subuh kita sudah sampai
    pondok.’ Setelah saya ikut
    duduk di sampingnya, tiba-tiba
    dengan suara berwibawa, Kiai
    berkata mengejutkan,
    ‘Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang
    kaucari? Apakah kau sudah
    menemukan pembenar dari tanda
    yang
    kaubaca di kening saya?
    Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yang
    mahir melihat tanda-tanda
    menjadi ragu terhadap
    kemahiranmu sendiri?’ Dingin
    air
    sungai rasanya semakin menusuk
    mendengar rentetan
    pertanyaan beliau yang
    menelanjangi itu.
    Saya tidak bisa berkata apa-
    apa. Beliau yang kemudian terus
    berbicara. ‘Anak muda, kau
    tidak perlu mencemaskan saya
    hanya karena kau melihat
    tanda
    “Ahli Neraka” di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-
    payah mencari bukti yang
    menunjukkan bahwa aku
    memang pantas masuk
    neraka.
    Karena, pertama, apa yang kau
    lihat belum tentu merupakan hasil
    dari pandangan kalbumu
    yang bening. Kedua, kau kan
    tahu, sebagaimana neraka
    dan sorga, aku adalah milik Allah.
    Maka terserah kehendak-Nya,
    apakah Ia memasukkan diriku
    ke
    sorga atau neraka. Untuk
    memasukkan hamba-Nya ke sorga atau neraka,
    sebenarnyalah Ia tidak memerlukan
    alasan. Sebagai
    kiai, apakah kau berani
    menjamin amalmu pasti
    mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani
    mengatakan bahwa orang- orang
    di warung yang tadi kau
    pandang
    sebelah mata itu pasti masuk
    neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik
    oleh-Nya, kita ingin berdekat-
    dekat dengan-Nya, tapi kita
    tidak berhak menuntut
    balasan
    kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-
    Nya. Bukankah begitu?’ Aku
    hanya bisa menunduk.
    Sementara Kiai Tawakkal terus
    berbicara sambil menepuk- nepuk
    punggung saya. ‘Kau harus lebih berhati-hati bila
    mendapat cobaan Allah
    berupa
    anugerah. Cobaan yang
    berupa anugerah tidak kalah
    gawatnya dibanding cobaan yang berupa
    penderitaan. Seperti mereka
    yang di warung tadi;
    kebanyakan mereka orang susah.
    Orang susah sulit kau
    bayangkan bersikap takabbur; ujub, atau sikap-sikap lain
    yang
    cenderung membesarkan diri
    sendiri. Berbeda dengan mereka
    yang mempunyai
    kemampuan dan kelebihan: godaan untuk
    takabbur dan sebagainya itu
    datang setiap saat. Apalagi bila
    kemampuan dan kelebihan itu
    diakui oleh banyak pihak’
    Malam itu saya benar-benar merasa
    mendapatkan pemahaman
    dan
    pandangan baru dari apa yang
    selama ini sudah saya ketahui.
    ‘Ayo kita pulang!’ tiba-tiba Kiai bangkit. ‘Sebentar lagi subuh.
    Setelah sembahyang subuh
    nanti, kau boleh pulang.’ Saya
    tidak merasa diusir; nyatanya
    memang saya sudah
    mendapat banyak dari kiai luar biasa ini.”
    “Ketika saya ikut bangkit,
    saya celingukan. Kiai Tawakkal
    sudah tak tampak lagi. Dengan
    bingung
    saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang
    dari
    sebuah surau, tapi bukan surau
    bambu. Seperti orang linglung,
    saya datangi surau itu dengan
    harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh dengan
    Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan Kiai
    Tawakkal, orang yang
    mirip
    beliau pun tak ada. Tak
    seorang pun dari mereka yang berada di
    surau itu yang saya kenal. Baru
    setelah sembahyang,
    seseorang
    menghampiri saya. ‘Apakah
    sampeyan Jakfar?’ tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu
    pun menyerahkan
    sebuah
    bungkusan yang ternyata
    berisi
    barang-barang milik saya sendiri. ‘Ini titipan Mbah Jogo,
    katanya milik sampeyan.’
    ‘Beliau
    di mana?’ tanya saya buru-
    buru. ‘Mana saya tahu?’
    jawabnya. ‘Mbah Jogo datang dan pergi
    semaunya. Tak ada seorang
    pun
    yang tahu dari mana beliau
    datang dan ke mana beliau
    pergi.’ Begitulah ceritanya. Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang
    telah berhasil mengubah
    sikap saya itu tetap
    merupakan
    misteri.” Gus Jakfar sudah
    mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi suntuk
    mendengarkan masih diam
    tercenung sampai Gus Jakfar
    kembali menawarkan
    suguhannya..

    Ikuti kisah / cerita perjalanan hidup gus javar selanjutnya .. video gus jakfar pasuruan terbaru 2019 lihat di channel youtube kami. . .

     
  • Kang Yudhie 23:51 on 3 August 2018 Permalink | Balas
    Tags: berita terbaru polres gresik 2018, , , , , nobar film 22 menit   

    Tonton “Nobar (Nonton Bareng) Film 22 Menit bersama Polres Gresik (Kapolres Gresik) di Lenmarc XXI Surabaya” di YouTube 

    Related Post : Blogger Polres Gresik 2018, BLOGGER GRESIK, blogger polres gresik, kapolres gresik, nobar film 22 menit, kapolres gresik baru, berita terbaru polres gresik 2018

     
  • Kang Yudhie 19:05 on 3 March 2018 Permalink | Balas
    Tags: , live streaming rcti indonesian idol 2018, ,   

    #NebengBoy Eps 07 – Daniel Mananta BOCORIN PEMENANG INDONESIAN IDOL 2018 ke Boy William? 

    siapa pemenang dan juara 1 indonesian idol 2018

    #NebengBoy Eps 07 – Daniel Mananta BOCORIN PEMENANG INDONESIAN IDOL 2018 ke Boy William?

    Siapakah Pemenang Indonesian Idol 2018? Itulah pertanyaan yang banyak masuk seputar pemenang Indonesian Idol 2018. Sebenarnya terlalu dini untuk menentukan juara Indonesian Idol 2018, tapi apa salahnya kalau jauh-jauh hari kita memprediksi pemenang Indonesian Idol 2018 yang penuh persaingan ini.
    Berikut adalah 5 (Lima) nama calon pemenang Indonesian Idol 2018 versi dontsad.com:

    1. Ghea Indrawari:
    Ghea Indrawari masuk ke dalam calon kandidat pemenang Indonesian Idol 2018. Sejak audisi, cewe imut dengan style khas Korea ini sudah berhasil menghipnotis juri dan penonton. Selain itu semenjak showcase, hingga babak spektakuler Ghea termasuk peserta yang stabil di atas panggung.
    Tapi, walaupun demikian Ghea Indrawari akan sangat sulit menembus babak final Indonesian Idol 2018 jika ia masih berada di zona amannya. Karena selama ini, Ghea belum menunjukkan progres yang berarti dalam bernyanyinya. Jika terus menerus mempertahankan teknik bernyanyi seperti ini para penonton dipastikan akan bosan yang akan menyebabkan ia tersandung menjadi The Next Indonesian Idol.

    2. Abdul:
    Abdul merupakan peserta laki-laki yang kami prediksi bisa menjebol angkernya persaingan untuk memenangkan Indonesian Idol 2018. Abdul memiliki suara yang bisa membuat kita jatuh cinta. Tapi, sayang ada yang membuat Abdul tidak dijagokan untuk memenangkan Indonesian Idol, yaitu: kurang bisa membawakan lagu berbahasa Indonesia. Abdul memang keren untuk di lagu-lagu berbahasa Inggris, tapi ketika ditantang lagu berbahasa Indonesia, Abdul langsung Keok.
    Tapi, keadaan akan bisa berbalik jika Abdul berhasil menaklukkan lagu berbahasa Indonesia. Bukan apa-apa, sepertinya lagu bahasa Indonesia merupakan momok menakutkan bagi Abdul. Jika ia berhasil ‘menaklukkan dan menundukkan’ lagu bahasa Indonesia maka ia memiliki paket lengkap untuk memenangkan kompetisi sengit tahun ini, Indonesian Idol 2018.

    3. Bianca Jodie:
    Ya, pasti ada yang tidak setuju dengan prediksi ini. Tapi, kita realistis saja. Lihatlah beberapa penampilan Jodie sewaktu Showcase pertama sampai babak spektakuler ke 2 tidak ada yang spesial dipenampilannya. Namun, hebatnya ia selalu berhasil lolos ke babak selanjutnya. Ini karena apa? Ya, suka atau tidak Bianca Jodie punya aura bintang layaknya Marion Jola. Ia mempunyai basis penggemar yang besar!
    Sebenarnya diawal audisi kami menjagokan gadis berkulit putih ini untuk menjadi The Next Indonesian Idol 2018. Selain memiliki suara yang renyah, cewek manis yang mirip prilly ini juga punya sifat yang polos dan menyenangkan. Anda tentu ingat dengan Fatin dan Ikhsan yang sukses mencuri hati penonton di awal audisi dan bisa ditebak mereka berhasil menjadi juara dikompetisi yang mereka ikuti.
    Tapi, sayang penampilannya dibeberapa minggu (Spektakuler Show) banyak yang mengecewakan. Andai saja Bianca Jodie bernyanyi dilevel aman saja, kami yakin ia akan memenangkan hati masyarakat Indonesia dengan artian ia akan memenangkan Indonesian Idol 2018.

    4. Joanita Veroni:
    Joan merupakan salah satu kandidat terkuat pemenang Indonesian Idol 2018. Selain memiliki perangai yang menyenangkan, suara Joan juga berhasil menggemparkan panggung Spektakuler Show.
    Mengapa kami tidak memilih Maria sebagai kandidat pemenang, tapi malah memilih Joan? Jujur saja Joan Memiliki aura bintang dibandingkan Maria. Suatu hal yang tidak dimiliki semua orang. Walaupun dari segi teknik vokal maria tidak usah diragukan lagi.

    5. Marion Jola:
    Saat penentuan yang lolos ke babak Showcase, kami tidak menyakini Marion Jola nantinya akan menjadi salah satu kandidat terkuat pemenang Indonesian Idol 2018. Hal ini didasarkan pada bad attitude yang ditunjukkannya pada dewan juri dan yang tambah membuat kami tidak memilih gadis bersuara manja ini sebagai kandidat pemenang adalah tersebarnya video seronok yang dikabarkan mirip dengannya.

    Tapi, apa yang terjadi… Marion seolah membalikkan keadaan. Saat ia terpuruk dengan berita miring yang hinggap padanya, ia berdiri tegak dan membuktikan bahwa ia layak berada di panggung Indonesian Idol 2018. Marion Jola sukses membawakan lagu RAN yang dibuktikan dengan standing apluse dari dewan juri. Sungguh hanya orang bermental baja yang bisa melakukannya. Dan Hebatnya, orang tersebut baru berumur 17 tahun!
    Marion mampu membuktikan bahwa ia tidak hanya menjual fisik dan aura bintangnya tapi juga kualitas vokalnya yang memang patut diacungi jempol.
    Jujur diantara 5 peserta Indonesian Idol 2018 yang kami prediksikan sebagai pemenang, Marian Jola merupakan salah satu peserta yang berpeluang besar memenangkan kompetisi ini.

    Itulah Prediksi pemenang Indonesian Idol 2018, menurut Anda siapa yang layak menjadi The Next Indonesian Idol? Tulis komenmu di bawah Ya …. Baca Juga: Ini Fakta Mencegangkan Dari Marion Jola Yang Jarang Diketahui: Anda Wajib Tahu!

     
  • Kang Yudhie 07:22 on 25 December 2017 Permalink | Balas
    Tags: BHAYANGKARI CANTIK, , PINKERS, , POLDA JATIM 2018, , , , SELAMAT HARI NATAL DAN TAHUN BARU 2018, , UCAPAN NATAL DAN TAHUN BARU 2018   

    Video Ucapan Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2018 oleh Ketua Bhayangkari Kepolisian Daerah Jawa Timur [POLDA JATIM] 

    Download dan Tonton Video Ucapan Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2018 oleh Ketua Bhayangkari dan Wakil Ketua Serta Pengurus Bhayangkari Kepolisian Daerah Jawa Timur [POLDA JATIM]

    KLIK LINK INI UNTUK DOWNLOAD VIDEO NYA :
    https://www.youtube.com/channel/UCLeLla0x6rHpxNq-o-vJbQw?sub_confirmation=1
    SHARE BY : @KangYudhie
    POLSEK GRESIK KOTA
    POLRES GRESIK
    POLDA JATIM

     
  • Kang Yudhie 10:39 on 2 December 2017 Permalink | Balas
    Tags: , HAUL BESAR SYEIKH MAULANA MALIK IBRAHIM, PERINGATAN MAULID NABI BESAR MUHAMMAD SAW   

    PERINGATAN MAULID NABI BESAR MUHAMMAD SAW dan HAUL BESAR SYEIKH MAULANA MALIK IBRAHIM GRESIK ke 617 Desember 2017 

    PERINGATAN MAULID NABI BESAR MUHAMMAD SAW dan HAUL BESAR SYEIKH MAULANA MALIK IBRAHIM GRESIK ke 617 Desember 2017

     
  • Kang Yudhie 13:58 on 4 October 2015 Permalink | Balas
    Tags: Bupati Gresik Periode 2016 - 2021, , Lembaga Survei Independent, Lembaga Survei Indonesia, LSI Pilkada 2015, , ,   

    Lembaga Survei LSI | Hasil Pilkada / Pilbup Gresik 2015 

    Lembaga Survei LSI : Hasil Pilkada / Pilbup Gresik 2015

    Nama Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Gresik 2015 :

    1. Sambari – Qosim (SQ)
    2. Khusnul Huluq – Ahmad Rubai (Berkah)
    3. Ahmad Nurhamim – Junaidi (Arjuna)  

    Tag :

    • Jumlah Total Hasil Perolehan Suara Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Gresik 2015
    • LSI Pilkada 2015, Pilkada Gresik 2015, Pilbup Gresik 2015, Bupati Gresik Periode 2016 – 2021,
    • Rekapitulasi Pilkada Kabupaten Gresik, Quick Count Pilkada Gresik 2015, Lembaga Survei Independent,
    • Quick Count Lembaga Survei Indonesia,
     
  • Kang Yudhie 03:07 on 28 August 2015 Permalink | Balas
    Tags: Berita Terbaru Seputar Gresik, Calon Terpilih Bupati dan Wakil Bupati Gresik 2015, Coblos Ulang Pilkada Gresik 2015, , , , Hasil Pilkada / Pilbup Gresik, , KPUD Gresik 2015, Pemenang Pilkada Gresik 2015, Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Gresik 2015, Pengamanan Pilkada Gresik, , , Pilkades Gresik 2015, Politik Gresik, , , Situasi Pilkada Gresik 2015   

    Polres Gresik dan Jajaran Siap Amankan Pilkades dan Pilkada Gresik 2015 | Hasil Perolehan Suara Sementara dan Tetap (Resmi) PILBUP 2015 | KPUD Gresik | Berita Politik Terbaru | Quick Count 

    Polres Gresik dan Jajaran Siap Amankan Pilkades dan Pilkada Gresik 2015 …

    Tag : Hasil Perolehan Suara Sementara dan Tetap (Resmi) PILBUP 2015 | KPUD Gresik …

    *Related Post : …

    1. Incoming Search Google at * http://google.co.id/

    Tag :

    • Pilkades Gresik 2015,
    • Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Gresik 2015,
    • Pilkada Gresik 2015,
    • Hasil Akhir Pilkada Gresik 2015,
    • Pilbup Gresik 2015,
    • Polres Gresik,
    • Hitung Cepat Hasil Perolehan Suara Sementara Pilkada Gresik 2015,
    • Gresik 2015,
    • Kabupaten Gresik,
    • Pengamanan Pilkada Gresik,
    • Desa Kramatinggil Gresik,
    • Pemenang Pilkada Gresik 2015,
    • Perolehan Suara Tetap Pilkada Gresik,
    • Calon Terpilih Bupati dan Wakil Bupati Gresik 2015,
    • Desa Sidorukun Gresik,
    • KPUD Gresik 2015,
    • Quick Count Pilkada Gresik 2015,
    • Pelantikan Bupati Gresik Periode …
    • Coblos Ulang Pilkada Gresik 2015,
    • Situasi Pilkada Gresik 2015,
    • Penetapan Hasil Perolehan Suara Pilkada Gresik,
    • Hasil Suara Pilbub Gresik
    • SQ : Sambari Halim Radianto – Muhammad Qosim …
    • Berkah : Bersama Husnul Khuluq – Ahmad Ruba’i …
    • Info / Berita terbaru Pilkada Gresik
    • Gresik Berhias Iman,
    • Situasi Pasca Pilkada Gresik Aman Terkendali (Kondusif),

    *Pesan Kamtibmas : Pilihan Boleh Beda, Kerukunan Tetap diJaga

     
  • Kang Yudhie 18:57 on 20 November 2014 Permalink | Balas
    Tags: Demo Semen Gresik, Gebyar Tahun Baru, Karyawan Semen Indonesia, Lowongan Kerja Semen Indonesia, Revolusi Mental, Semen Gresik, Semen Indonesia, Semen Tuban, Unjuk Rasa Semen Gresik, UnjukRasa di Gresik 2014   

    Pam Demo Karyawan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk | Unjuk Rasa Serikat Karyawan Semen Indonesia (SKSI) di Kantor Pusat Semen Gresik Jawa Timur menuntut Direktur Utama SI Dwi Soetjipto mundur 

    Update Status :
    Kamis, 20 Nopember 2014

    Pam Demo Karyawan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk | Unjuk Rasa Serikat Karyawan Semen Indonesia (SKSI) di Kantor Pusat Semen Gresik Jawa Timur menuntut Direktur Utama SI Dwi Soetjipto mundur dari jabatannya. Unjuk rasa juga di ikuti oleh karyawan dari pabrik semen Tuban.

    Tuntutan dalam Spanduk antara lain :

    • Stop pemborosan.
    • Stop pencitraan.
    • Dirut harus Mundur dari jabatannya.
    • Tolak segala macam acara Gebyar Tahun Baru, Celebration Nite dan sejenisnya
    • Selamatkan aset Bangsa, saatnya Revolusi Mental di Semen Indonesia, serta selamatkan keberlangsungan operasional Pabrik Tuban.

    Situasi tertib Aman Terkendali… Alhamdulillah.. 🙂 … Read More : …

    Tag : Revolusi Mental, Semen Gresik, Semen Tuban, UnjukRasa di Gresik 2014, Unjuk Rasa Semen Gresik, Karyawan Semen Indonesia, Lowongan Kerja Semen Indonesia, Semen Indonesia, Gebyar Tahun Baru ..

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal